TREN.BISNISMARKET.COM - Kisah pilu seorang pemuda asal India, Kandula, berakhir di balik jeruji besi setelah melancarkan aksi balas dendam digital yang merugikan perusahaan tempatnya bekerja. Rasa sakit hati akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) mendorongnya untuk melakukan kejahatan siber yang spektakuler.

Kejadian ini bermula ketika Kandula, yang dipecat dari perusahaan penyedia layanan informasi, komunikasi, dan teknologi bernama NCS pada Oktober 2022 karena kinerja yang dinilai buruk, merasa tidak terima. Hari terakhirnya bekerja adalah pada 16 November 2022, namun kekesalannya terus membekas.

Kandula merasa telah memberikan kontribusi positif selama bekerja di NCS dan merasa bingung serta kesal atas pemecatan tersebut. Ia tidak lagi memiliki pekerjaan di Singapura dan terpaksa kembali ke kampung halamannya di India.

Sebelum insiden ini, Kandula tergabung dalam tim beranggotakan 20 orang yang bertanggung jawab mengelola sistem komputer quality assurance (QA) di NCS. Sistem ini krusial untuk menguji perangkat lunak dan program baru sebelum diluncurkan ke publik.

Pihak NCS mengonfirmasi bahwa sistem yang menjadi sasaran perusakan merupakan "sistem pengujian mandiri" yang terdiri dari sekitar 180 server virtual. Penting untuk dicatat bahwa sistem ini tidak menyimpan informasi sensitif perusahaan.

Meskipun telah kembali ke India, dendam Kandula belum padam. Ia secara ilegal mengakses sistem NCS sebanyak enam kali menggunakan kredensial administrator pribadinya antara 6 hingga 17 Januari 2023, dari laptop pribadinya.

Pada Februari 2023, Kandula kembali ke Singapura untuk mencari pekerjaan baru dan sempat menumpang di kediaman mantan rekannya. Di sanalah, pada 23 Februari 2023, ia kembali menyusup ke sistem NCS melalui jaringan Wi-Fi di tempat tersebut.

Selama dua bulan melakukan akses ilegal, Kandula secara diam-diam menulis dan menguji berbagai skrip komputer di Google. Tujuannya adalah untuk memastikan skrip tersebut efektif dalam menghapus server.

Puncak dari aksinya terjadi pada Maret 2023. Setelah melakukan akses sebanyak 13 kali ke sistem QA NCS, Kandula mengeksekusi skrip yang telah diprogramnya pada tanggal 18 dan 19 Maret. Sebanyak 180 server virtual dihapus secara berurutan.