TREN.BISNISMARKET.COM - Sebuah studi ilmiah inovatif berhasil mengungkap bukti mengenai dampak pemanasan global melalui analisis fisik batang pohon. Pendekatan dendrokronologi ini menawarkan catatan iklim yang jauh lebih panjang dibandingkan data satelit konvensional yang hanya mencakup lima dekade ke belakang.

Para peneliti yang dipimpin oleh Ulf Buntgen dari University of Cambridge berfokus pada analisis lingkar pohon, yaitu pola seperti cincin yang terbentuk pada potongan batang. Lingkar tersebut menyimpan informasi penting mengenai kondisi lingkungan yang dialami pohon pada tahun tertentu sepanjang hidupnya.

Hasil dari analisis mendalam terhadap pola pertumbuhan pohon tersebut menunjukkan temuan signifikan mengenai suhu ekstrem. Secara mengejutkan, periode suhu paling panas dalam kurun waktu 2.000 tahun terakhir tercatat terjadi pada tahun 2023.

Temuan ini memberikan perspektif historis mengenai perubahan iklim saat ini. "Melihat sejarah dengan sangat panjang, Anda bisa lihat betapa luar biasanya pemanasan global di periode sekarang. 2023 adalah tahun yang sangat panas, tren ini akan terus berlanjut jika gas rumah kaca tidak dikurangi secara besar-besaran," kata Buntgen, Dikutip dari IFL Science, Sabtu (27/6/2026).

Selain mencatat rekor panas, penelitian ini juga mengidentifikasi periode suhu ekstrem lainnya dalam sejarah iklim. Para peneliti menemukan bahwa cuaca paling dingin terjadi pada tahun 536 Masehi, ketika musim panas tercatat lebih rendah hingga 3,93 derajat Celsius dibandingkan tahun lalu.

Perbandingan dengan era pra-industri juga menunjukkan skala pemanasan yang terjadi saat ini. Data tim Buntgen mencatat bahwa suhu musim panas pada tahun 2023 mencapai 2,03 derajat Celsius lebih panas dibandingkan rata-rata suhu pada periode 1850–1900.

Implikasi dari data baru ini cukup besar terhadap kerangka kerja iklim internasional. Data ini menandakan bahwa target kenaikan suhu yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris tahun 2015 perlu ditinjau ulang berdasarkan bukti historis yang lebih panjang ini.

Secara spesifik, meskipun Perjanjian Paris mencatat bahwa tahun 2023 lebih panas, angka kenaikannya berdasarkan data lingkar pohon adalah 1,52 derajat Celsius melampaui suhu rata-rata pra-industri (1850–1900).

Jan Esper dari Johannes Gutenberg University Mainz turut menekankan pentingnya tindakan cepat dalam menghadapi kondisi ini. "Betul iklim selalu berubah, tetapi pemanasan pada 2023, yang disebabkan oleh gas rumah kaca dan diperparah oleh El Nino, menyebabkan gelombang panas dan periode kekeringan yang lebih panjang. Ini menunjukkan sangat penting untuk segera mengurangi emisi gas rumah kaca," kata Esper.