TREN.BISNISMARKET.COM - Upaya signifikan tengah digalakkan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) untuk mendongkrak produktivitas perkebunan kelapa sawit di tanah air. Strategi inovatif yang diusung kali ini melibatkan pemanfaatan serangga penyerbuk yang didatangkan langsung dari benua Afrika.
Ketua Umum Gapki, Eddy Martono, mengungkapkan bahwa program introduksi serangga penyerbuk ini telah berjalan dan menunjukkan hasil yang menjanjikan. Serangga yang pertama kali didatangkan berasal dari Tanzania, dan program serupa kini sedang dikembangkan bersama negara Zambia.
"Kita itu sudah berjalan program peningkatan produktivitas, dengan melakukan introduksi serangga penyerbuk. Pertama ini dari Tanzania, dan juga sumber daya genetik. sumber daya genetik itu juga dari Tanzania, sekarang yang sedang kita berjalan adalah dengan Zambia, ini sedang proses," kata Eddy Martono.
Tujuan utama dari penggunaan serangga penyerbuk asal Tanzania ini adalah untuk menyempurnakan proses pembentukan buah kelapa sawit di perkebunan. Proses yang lebih sempurna ini secara langsung diharapkan memberikan dampak positif berupa peningkatan signifikan pada volume produksi Tandan Buah Segar (TBS).
Keunggulan utama dari intervensi biologis ini adalah kecepatan dampaknya yang diperkirakan dapat segera dirasakan oleh para petani. Eddy Martono memperkirakan bahwa peningkatan produktivitas sudah bisa terlihat dalam jangka waktu yang relatif singkat, yakni sekitar enam bulan setelah pelepasan dilakukan.
Saat ini, tahap awal dari program pelepasan serangga penyerbuk tersebut masih dilakukan secara terbatas dan terfokus. Pelepasan perdana hanya menyasar lingkungan perkebunan anggota konsorsium Gapki saja sebelum diperluas ke masyarakat luas.
"Tapi memang ini sekarang pelepasannya terbatas. Belum semua. masih di anggota-anggota konsorsium Gapki, yang nanti setelah itu baru kita mulai lepas secara ini ke masyarakat juga," terang Eddy Martono lebih lanjut mengenai strategi implementasi.
Selain serangga penyerbuk, Gapki juga tengah mengembangkan sumber daya genetik baru yang diyakini mampu memberikan lonjakan produktivitas yang lebih substansial. Eddy Martono memproyeksikan peningkatan hasil panen bisa mencapai dua kali lipat dari kondisi sebelumnya.
"Dengan sumber daya genetik baru, harusnya bisa meningkat lebih tinggi lagi. Karena kenapa? yang tadinya mungkin hanya 24 ton TBS (Tandan Buah Segar) per hektare per tahun, bisa meningkat 2 kali lipat," ujar Eddy Martono.