TREN.BISNISMARKET.COM - Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) kini mulai menunjukkan sisi gelapnya bagi industri kreatif di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Kabar terbaru dari Jepang mengindikasikan ancaman serius yang berpotensi merugikan para pekerja seni, termasuk selebriti papan atas tanah air seperti Raffi Ahmad.

Di Jepang, AI dilaporkan telah menyebabkan pelanggaran hak cipta terhadap para artis lokal dengan kerugian yang mencapai angka fantastis, yaitu 4,5 miliar yen atau setara dengan Rp 502 miliar. Temuan ini berasal dari studi yang dirilis oleh Organisasi Perlindungan Hak Publikasi Jepang (JAPRO).

Studi tersebut mencatat adanya 43.483 kasus dugaan pelanggaran hak cipta yang terjadi hanya dalam kurun waktu dua bulan, terhitung sejak Juni 2025. Modus pelanggaran yang digunakan sangat beragam, mulai dari manipulasi foto selebriti hingga peniruan suara yang merugikan kreator asli.

Konten tiruan yang dihasilkan AI ini ternyata sangat diminati di dunia maya, terbukti dengan 335 juta penayangan di berbagai platform media sosial. Kerugian finansial dihitung berdasarkan hilangnya biaya lisensi penggunaan wajah atau suara, serta potensi pendapatan iklan yang seharusnya diterima oleh pemilik hak cipta.

Pihak JAPRO mengingatkan bahwa angka kerugian yang dilaporkan kemungkinan masih jauh lebih besar dari perkiraan awal. "Kerugian finansial mungkin jauh lebih besar dari yang diperkirakan, karena perhitungan hanya diambil dari kasus yang berhasil ditemukan saja," ujar perwakilan JAPRO seperti dikutip dari Japan Times, Selasa (14/7/2026).

Kondisi ini diperparah oleh minimnya kesiapan pelaku industri hiburan di Jepang. Hanya 28% perusahaan hiburan yang menyadari kerugian akibat pelanggaran hak cipta berbasis AI, dan sebagian besar agensi merasa kewalahan dalam melacak konten ilegal yang tersebar luas di internet.

Kurangnya kesiapan ini terlihat dari data bahwa baru 1,1% perusahaan yang memiliki panduan resmi untuk menangani kasus semacam ini, sementara sisanya masih dalam tahap pertimbangan atau belum menyusun rencana sama sekali. Fenomena yang terjadi di Jepang ini tidak hanya menjadi masalah lokal.

Potensi kerugian serupa kini mulai mengintai para selebriti Indonesia yang memiliki nilai merek tinggi dan menjalankan berbagai lini bisnis, seperti Raffi Ahmad. Wajah, suara, dan namanya seringkali menjadi daya tarik utama dalam kampanye iklan dan produk kemitraan.

Jika teknologi peniruan AI disalahgunakan di Indonesia, kerugian yang bisa dialami mencapai ratusan miliar rupiah dan berpotensi menggerus sumber pendapatan utama para selebriti. Kehadiran konten buatan AI yang meniru wajah dan suara Raffi Ahmad untuk promosi produk palsu kian mengkhawatirkan.