TREN.BISNISMARKET.COM - Sebuah penelitian komprehensif mengenai paleotsunami yang dilakukan di sepanjang pesisir selatan Jawa hingga Bali menunjukkan indikasi kuat tentang kejadian tsunami dahsyat sekitar empat abad silam. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi sejarah bencana masa lalu untuk meningkatkan pemahaman risiko di masa depan.

Peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eko Yulianto, menjelaskan bahwa jejak peristiwa besar tersebut kini dapat ditelusuri melalui berbagai bukti ilmiah yang ditemukan. Bukti-bukti ini diperoleh melalui kombinasi kajian geologi, analisis mikrofosil laut, data arkeologi, hingga penelusuran narasi budaya masyarakat pesisir.

Eko Yulianto menyoroti tantangan utama dalam mengidentifikasi peristiwa masa lampau yang terjadi sebelum catatan sejarah tertulis tersedia. "Permasalahannya adalah tidak ada dokumen sejarah yang dapat menjelaskan kapan ruptur raksasa terakhir benar-benar terjadi," jelas Eko saat workshop di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Senin lalu. Ia menambahkan, "Jika gempa megathrust terjadi sebelum periode sejarah tertulis, memorinya mungkin sudah hilang dari catatan sejarah," Dikutip dari CNBC Indonesia.

Hingga tahun 2026, tim peneliti telah melakukan investigasi paleotsunami di dua belas lokasi strategis, membentang dari Jawa Barat hingga Bali. Dalam paparannya, Eko menyoroti empat lokasi representatif yang memberikan gambaran jelas mengenai kejadian tersebut, yaitu Cibuaya di Banten, Pangandaran di Jawa Barat, Kulon Progo di Yogyakarta, dan Tabanan di Bali.

Salah satu temuan paling signifikan ditemukan di Pangandaran, Jawa Barat, berupa lapisan pasir tsunami yang memisahkan endapan lumpur mangrove dengan sedimen yang lebih muda. Analisis radiokarbon terhadap sisa tumbuhan di bawah lapisan pasir tersebut menunjukkan usia sekitar 400 tahun, menjadi indikasi awal tsunami besar empat abad lalu, ujar Eko.

Selain itu, lingkungan rawa pesisir di Pangandaran menunjukkan adanya struktur lapisan sedimen berulang, yang diduga merupakan hasil dari beberapa gelombang tsunami yang datang berturut-turut dalam satu kejadian besar. Bukti pendukung juga ditemukan di Situs Batu Kalde Pangandaran, berupa struktur batu yang roboh di antara fragmen gerabah Hindu-Buddha dan cangkang moluska.

Di Kulon Progo, dekat Bandara Internasional Yogyakarta, tim menemukan lapisan pasir yang mengandung beragam mikrofosil laut seperti foraminifera, radiolaria, dan ostrakoda. Kehadiran mikrofosil laut dalam ini menjadi penanda kuat adanya genangan laut besar. "Kehadiran mikrofosil laut dalam menjadi bukti kuat bahwa material tersebut terbawa oleh peristiwa genangan laut besar dan bukan oleh banjir pesisir biasa," ujar Eko.

Temuan serupa juga terkonfirmasi di Cibuaya, Banten, di mana lapisan pasir kaya mikrofosil laut ditemukan tepat di bawah batang pohon yang terkubur di rawa, dengan penanggalan radiokarbon sekitar 300 hingga 400 tahun lalu. "Hubungan stratigrafi tersebut mengindikasikan bahwa suatu peristiwa genangan laut besar kemungkinan terjadi terlebih dahulu, kemudian diikuti perubahan lingkungan yang menyebabkan pohon-pohon tumbang dan tertimbun dalam sedimen rawa," ujar Eko.

Sementara itu, di Tabanan, Bali, ditemukan susunan bongkah batu dan fragmen genteng yang orientasinya mengarah ke daratan, menandakan aliran air laut yang sangat kuat. Berdasarkan perbandingan dengan lapisan abu vulkanik Letusan Gunung Tambora 1815, usia kejadian tsunami di lokasi tersebut diperkirakan juga berada pada kisaran 400 tahun lalu, jelas Eko.