TREN.BISNISMARKET.COM - Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas global menunjukkan tren penurunan signifikan, sebuah fenomena yang kontradiktif dengan peningkatan ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Biasanya, ketidakpastian global akan mendorong investor mencari emas sebagai aset aman (safe haven).
Pergerakan harga ini terlihat jelas dari penurunan tajam yang dialami logam mulia tersebut. Dikutip dari Al Jazeera, harga emas tercatat ambruk dari puncaknya di level US$ 5.303 per troy ounce pada 28 Januari menjadi sekitar US$ 4.235 per troy ounce pada Jumat lalu (14/3/2026).
Tekanan pada harga emas ini utamanya dipicu oleh kekhawatiran pasar mengenai potensi inflasi yang semakin tinggi. Kekhawatiran tersebut mendorong ekspektasi bahwa bank sentral di berbagai negara akan menahan atau bahkan menaikkan suku bunga acuannya.
Salah satu pemicu inflasi yang disorot adalah gangguan pada rantai pasokan energi global. Gangguan ini timbul akibat terhambatnya lalu lintas pelayaran komersial di jalur vital Selat Hormuz.
Gangguan di Selat Hormuz terjadi karena Iran memberlakukan blokade terhadap jalur air tersebut sejak awal konflik, sebagai respons atas tindakan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Di Amerika Serikat sendiri, data menunjukkan inflasi telah mencapai angka 4,2%, yang merupakan level tertinggi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Selain itu, pasar tenaga kerja AS masih menunjukkan ketahanan yang cukup kuat.
Kondisi tersebut menyebabkan ekspektasi pasar mengenai pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS (Federal Reserve) justru semakin berkurang, yang berdampak langsung pada pasar komoditas.
Meskipun emas sering dianggap sebagai lindung nilai (hedging) yang efektif terhadap inflasi, logam mulia ini cenderung melemah ketika suku bunga acuan berada pada level yang tinggi. Hal ini disebabkan emas adalah aset yang tidak menghasilkan pendapatan bunga atau dividen.
"Emas adalah aset yang paling mendekati uang riil," ujar Justin Cardwell, Kepala Analis Opsi OptionSpreaders.com, kepada Al Jazeera.