TREN.BISNISMARKET.COM - Jakarta, CNBC Indonesia – Pengelola pusat perbelanjaan di Indonesia kini menghadapi tantangan ganda yang sangat signifikan dalam menjalankan operasional bisnis mereka. Tekanan ini datang dari persaingan harga yang ketat akibat membludaknya barang impor ilegal, terutama pakaian bekas.

Fenomena ini muncul seiring dengan perubahan pola konsumsi masyarakat yang kini cenderung mencari produk dengan harga serendah mungkin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Daya beli yang tertekan menjadi faktor utama pendorong tren belanja barang murah ini.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menyoroti bagaimana tekanan ekonomi mendorong masyarakat mencari opsi paling ekonomis. Hal ini terjadi terutama pada kelompok masyarakat menengah bawah yang daya belinya mengalami gangguan selama beberapa tahun terakhir.

"Itulah yang terjadi kenapa impor ilegal semakin marak, karena kan murah akibat ilegal gitu kan impornya? Baju bekas, baju bekas kan marak begitu ya kan, karena mereka tetap perlu baju," kata Alphonzus saat berbincang dalam Closing Bell CNBC Indonesia, Minggu (14/6/2026).

Menurut pandangan Alphonzus, fenomena ini menunjukkan bahwa konsumen memprioritaskan harga satuan unit yang murah di tengah kondisi ekonomi yang kurang stabil. Kondisi ini secara langsung menempatkan pelaku usaha ritel konvensional dalam posisi sulit untuk bersaing.

Selain gempuran produk murah, pengelola pusat perbelanjaan juga harus menanggung beban kenaikan biaya operasional yang melonjak drastis. Kondisi ini diperparah dengan periode low season yang cenderung lebih panjang dari biasanya, menekan potensi penjualan.

Alphonzus mengungkapkan bahwa kenaikan biaya operasional yang kini ditanggung oleh pelaku usaha ritel telah melampaui angka 30% secara keseluruhan. "Wah ini sudah lebih dari 30% (kenaikan biaya operasional)," ungkap Alphonzus.

Lonjakan biaya tersebut dipicu oleh beberapa faktor utama, termasuk kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang esensial untuk kegiatan logistik. Selain itu, kenaikan tarif energi gas juga turut berkontribusi pada peningkatan beban biaya bulanan.

"Biaya energi gas LNG (Liquefied Natural Gas), gas CNG (Compressed Natural Gas) ini naik setiap bulan, karena memang harga jualnya itu ada komponen harga USD-nya. Ini naik setiap bulan," jelasnya.