TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada sesi pertama hari ini menunjukkan pemulihan signifikan setelah indeks mengalami pelemahan tajam pada hari sebelumnya. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melaju kencang, menguat sebesar 2,69% dan ditutup di level 6.041,93.
Pergerakan positif ini terjadi setelah IHSG sebelumnya ditutup anjlok 3,56% pada penutupan sesi sebelumnya, memberikan kelegaan bagi para investor di pasar saham Tanah Air. Penguatan kali ini bersifat luas, ditandai dengan seluruh sektor industri berhasil mencatatkan kenaikan dan berada di zona hijau.
Meskipun sempat dibuka dalam zona merah, IHSG segera berbalik arah dan melaju hingga akhir sesi pertama perdagangan. Tercatat terdapat 535 emiten yang menguat, sementara hanya 139 yang mengalami penurunan dan 134 lainnya stagnan.
Dilansir dari CNBC Indonesia, nilai transaksi sepanjang sesi pertama terpantau tidak terlalu ramai, hanya mencapai Rp 7,97 triliun dari total 13,71 miliar saham yang diperdagangkan melalui 1,03 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar juga masih berada di bawah ambang batas psikologis, tercatat sebesar Rp 10.618 triliun.
Penguatan yang terjadi berlangsung secara merata di semua sektor industri, dengan sektor utilitas memimpin kenaikan sebesar 4,35%, diikuti oleh teknologi yang naik 3,17%, dan sektor konsumer non-siklikal yang menguat 3,05%.
Motor utama penguatan indeks hari ini didominasi oleh saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot signifikan dalam perhitungan IHSG. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi kontributor terbesar dengan memberikan sumbangan poin sebesar 18,74 poin terhadap kenaikan indeks.
Kontribusi positif juga datang dari saham-saham unggulan lainnya seperti PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) dengan 14,35 poin, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyumbang 14,11 poin, serta PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Dukungan substansial juga terlihat dari saham seperti BRPT, BREN, TLKM, DSSA, dan BBNI.
Menyongsong perdagangan hari Kamis, 25 Juni 2026, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sentimen hasil review dari MSCI. Keputusan MSCI yang mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Emerging Market telah berhasil meredakan kekhawatiran pasar.
Keputusan tersebut meredakan potensi tekanan jual akibat kekhawatiran keluarnya dana asing secara masif jika status Indonesia diturunkan menjadi Frontier Market. Meskipun demikian, MSCI memberikan catatan mengenai transparansi kepemilikan saham dan efektivitas reformasi pasar modal yang akan dievaluasi kembali pada November 2026.