TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan Bursa Efek Indonesia pada Kamis, 25 Juni 2026, ditandai dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cukup dinamis. Indeks dibuka dalam zona negatif pada awal sesi, namun berhasil membalikkan keadaan dan ditutup menguat tipis 0,35% pada penutupan pagi.

Pada saat jam perdagangan dimulai pukul 09.00 WIB, IHSG tercatat berada di level 5.873,07, menunjukkan pelemahan awal. Dalam dua menit pertama, indeks sempat terkoreksi turun ke level terendah 5.865,68, atau melemah 18,20 poin (-0,31%) dari penutupan sebelumnya.

Namun, sentimen positif mulai muncul, dan hanya dua menit kemudian, tepatnya pukul 09.02 WIB, IHSG berhasil bangkit dan naik 0,35% mencapai level 5.904,28. Kenaikan ini menunjukkan adanya minat beli yang kembali masuk ke pasar saham domestik.

Secara keseluruhan, dari total saham yang diperdagangkan, tercatat 177 saham berhasil menguat, sementara 194 saham lainnya mengalami pelemahan, dan mayoritas yakni 588 saham bergerak stagnan. Total nilai transaksi pada pagi itu mencapai Rp235,4 miliar yang berasal dari volume 331,9 juta saham dalam 38.560 kali transaksi.

Pergerakan IHSG pada hari itu sangat dipengaruhi oleh hasil review dari MSCI yang memutuskan mempertahankan klasifikasi Indonesia dalam kategori Emerging Market. Keputusan ini sangat krusial karena meredakan kekhawatiran pasar mengenai potensi arus keluar dana asing besar-besaran jika status Indonesia diturunkan menjadi Frontier Market.

Dilansir dari CNBC Indonesia, meskipun status Indonesia dipertahankan, MSCI tetap memberikan catatan penting mengenai aspek pasar modal domestik. "MSCI masih memberikan catatan terkait transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta efektivitas implementasi reformasi pasar modal yang akan kembali dievaluasi pada November 2026," jelas sumber berita tersebut.

Dari sisi domestik, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah menyambut baik keputusan tersebut sebagai cerminan kepercayaan investor global. Pemerintah sendiri menilai bahwa evaluasi lanjutan yang dilakukan oleh MSCI merupakan bagian dari proses yang wajar dalam pengawasan pasar global.

Sementara itu, perhatian investor juga terbagi dengan perkembangan data ekonomi eksternal, khususnya menjelang rilis inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat. Data PCE ini merupakan indikator utama bagi The Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga acuan.

Jika inflasi PCE menunjukkan kenaikan, hal tersebut dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer), yang berpotensi menekan aset berisiko seperti IHSG dan mata uang Rupiah. Pasar juga tengah mencermati data klaim pengangguran mingguan AS untuk mendapatkan gambaran kondisi ketenagakerjaan terkini.