TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan saham di kawasan Asia-Pasifik mayoritas menunjukkan tren positif pada hari Kamis, 25 Juni 2026. Penguatan ini terjadi sebagai respons terhadap rotasi sektor yang telah terjadi sebelumnya di bursa saham Wall Street, menandakan meredanya tekanan pada pasar saham global.
Investor di kawasan ini juga tengah mencermati dengan seksama sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pada hari yang sama. Salah satu data yang paling dinantikan adalah indikator inflasi favorit dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Secara spesifik, indeks Kospi di Korea Selatan memimpin penguatan di kawasan Asia dengan lonjakan signifikan lebih dari 5% pada awal sesi perdagangan. Sementara itu, indeks Kosdaq yang berfokus pada saham berkapitalisasi kecil juga ikut mencatatkan kenaikan sebesar 1,32%.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 berhasil menguat sebesar 1,28%, sejalan dengan indeks Topix yang bertambah 0,76%. Namun, berbeda dengan tren mayoritas di regional, indeks acuan Australia, S&P/ASX 200, justru menunjukkan sedikit pelemahan pada sesi perdagangan awal.
Chief Market Strategist Carson Group, Ryan Detrick, memberikan pandangan bahwa pergeseran dana keluar dari saham teknologi dalam beberapa sesi terakhir merupakan sinyal yang positif bagi pasar ekuitas secara keseluruhan. Menurutnya, "Pelebaran partisipasi sektor-sektor lain menunjukkan kondisi pasar yang lebih sehat dibanding hanya bergantung pada penguatan saham teknologi," ujar Ryan Detrick.
Detrick menambahkan bahwa para pelaku pasar kini mulai mengalihkan perhatian dan investasi ke sektor industri serta keuangan, yang dinilai memiliki prospek menarik ke depan. Ia juga menegaskan bahwa koreksi yang terjadi pada saham teknologi selama bulan Juni dianggap wajar dan tidak mengubah pandangan positif terhadap keseluruhan pasar.
Dari perkembangan geopolitik, Gedung Putih telah mengajukan permintaan anggaran tambahan sebesar US$87,6 miliar kepada Kongres AS pada hari Rabu. Dana tersebut direncanakan untuk membiayai perang Iran serta berbagai kebutuhan pengeluaran pemerintah lainnya.
Permintaan anggaran tambahan tersebut disampaikan melalui surat dari Direktur Office of Management and Budget, Russell Vought, kepada Ketua DPR AS Mike Johnson. Namun, proposal ini langsung menuai penolakan dari anggota Partai Demokrat di Kongres AS.
Pelaku pasar juga sedang menantikan rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) bulan Mei, yang merupakan indikator inflasi pilihan The Fed. Ekonom yang disurvei oleh Dow Jones memproyeksikan indeks PCE utama naik 0,5% secara bulanan dan 4,1% secara tahunan, lebih tinggi dari pembacaan bulan April.