TREN.BISNISMARKET.COM - Meskipun terjadi meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta pelunakan perang dagang dengan Tiongkok yang seharusnya menekan harga minyak dunia, para ekonom kini mewaspadai munculnya katalis inflasi baru. Katalis baru ini berpusat pada perlombaan pengembangan Kecerdasan Buatan (AI) berskala besar di Amerika Serikat.
Fenomena ini menyebabkan raksasa teknologi berlomba memenangkan supremasi AI dengan mengalokasikan dana yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk pembangunan infrastruktur fisik yang dibutuhkan. Pengeluaran modal ini diperkirakan akan menciptakan tekanan kenaikan harga di berbagai sektor yang terkait dengan rantai pasokan AI.
Analis memperkirakan bahwa pengeluaran modal oleh lima perusahaan teknologi utama—Alphabet, Amazon, Meta Platforms, Microsoft, dan Oracle—dapat mencapai US$741 miliar (sekitar Rp13.219 triliun) pada tahun ini. Angka tersebut merepresentasikan peningkatan hampir 75% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, menunjukkan skala investasi yang masif.
Stijn Van Nieuwerburgh, ekonom dari Universitas Columbia, menekankan bahwa pembangunan AI sangat bersifat fisik dan membutuhkan banyak sumber daya. "Meskipun sebagian besar percakapan berfokus pada apa yang dapat dilakukan AI, pembangunan itu sendiri sangat bersifat fisik," dikutip dari Wall Street Journal, Sabtu (27/6/2026).
Infrastruktur AI memerlukan pusat data (data center) yang membutuhkan peralatan komputasi canggih, sistem pendingin, kabel listrik dan serat optik, serta generator cadangan. Berdasarkan rencana yang ada, Van Nieuwerburgh memproyeksikan total pengeluaran pembangunan AI hingga tahun 2032 dapat menyentuh angka sekitar US$8 triliun (Rp142.586 triliun).
Permintaan tinggi terhadap komponen ini akan meningkatkan harga berbagai produk dan jasa yang digunakan dalam konstruksi AI, yang mana banyak di antaranya juga digunakan di sektor lain. Akibatnya, kenaikan harga ini mulai merembet ke perekonomian secara lebih luas, terlihat dari kenaikan harga produk elektronik konsumen seperti ponsel pintar dan laptop.
Dampak ini sudah mulai terlihat pada kenaikan harga produk seperti konsol video game, ponsel, dan laptop dari perusahaan seperti Nintendo, Microsoft, dan Sony. Bahkan CEO Apple, Tim Cook, menyatakan bahwa lonjakan biaya yang ia saksikan di bidang teknologi ini belum pernah terjadi sebelumnya.
"Lonjakan biaya tersebut tidak seperti apa pun yang pernah saya lihat di bidang mana pun dalam lebih dari 40 tahun," ujar Tim Cook kepada The Wall Street Journal.
Meskipun demikian, para ekonom mencatat bahwa dalam jangka panjang, revolusi AI berpotensi menjadi kekuatan disinflasi melalui peningkatan signifikan produktivitas pekerja, seperti yang terjadi pada revolusi teknologi sebelumnya. Kevin Warsh, Ketua Federal Reserve, pernah mengemukakan pandangan optimis ini.