- TREN.BISNISMARKET.COM - Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI masih terus menggodok Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII). Proses legislasi ini terlihat masih membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk mencapai kesepakatan final.
Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Edward Omar Sharif Hiariej, mengungkapkan bahwa RUU PFII masih dalam tahap pembahasan bersama Komisi XI DPR RI. Proses ini mencakup berbagai poin yang menjadi substansi rancangan undang-undang tersebut.
"Total Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) itu ada sekitar 400, tapi DIM tetapnya kan banyak, 157. Kemudian perubahan redaksional ada sekitar 57," ujar Eddy Hiariej saat ditemui di gedung DPR, Senin (13/7/2026).
Fokus utama pemerintah dan parlemen saat ini adalah pada DIM yang memuat substansi-substansi baru. Namun, dari total 97 DIM yang dianggap substansi baru, baru sekitar 20 poin yang berhasil dibahas.
"Yang sekarang kita bahas itu ada 97 DIM, yang merupakan substansi-substansi baru. Tapi ini baru sampai dengan 20 DIM ya," ungkap Eddy Hiariej.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, telah memastikan bahwa Bali akan menjadi lokasi utama pembangunan PFII. Keputusan ini didasarkan pada kesiapan infrastruktur yang memadai di Pulau Dewata.
"Ya segeralah sesudah itu. Mudah-mudahan sebelum 16 Agustus semua sudah siap," kata Airlangga Hartarto di kantornya, Jakarta, Jumat (10/7/2026). Pernyataan ini mengindikasikan optimisme pemerintah terkait persiapan teknis pembangunan.
Pemilihan Bali sebagai lokasi PFII bukan tanpa alasan. Airlangga Hartarto menyoroti kelengkapan infrastruktur penunjang, mulai dari fasilitas kesehatan bertaraf internasional di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur hingga daya tarik pariwisata yang sudah mendunia.
"Jadi kita menawarkan seperti di Dubai kan di daerah tertentunya tidak terlalu sibuk, demikian pula di tempat-tempat lain. Jadi Bali adalah salah satu tempat yang juga mempersyaratkan kondisi kesehatan first class dan kita sudah punya KEK Sanur," papar Airlangga Hartarto.