TREN.BISNISMARKET.COM - Setelah pengumuman hasil evaluasi MSCI, aktivitas jual bersih (net foreign sell) yang dilakukan oleh investor asing di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai menunjukkan tren penurunan. Hal ini terjadi pada perdagangan hari Kamis, 25 Juni 2026, menandakan meredanya tekanan jual yang sempat masif sehari sebelumnya.

Berdasarkan data perdagangan yang tercatat, investor asing membukukan net sell sebesar Rp299 miliar pada hari Kamis tersebut. Angka ini menunjukkan penyusutan drastis jika dibandingkan dengan net sell yang mencapai Rp1,171 triliun pada hari Rabu sebelumnya.

Penyusutan nilai net sell ini merupakan indikasi awal bahwa tekanan jual dari investor asing mulai berkurang secara substansial. Penurunan sebesar kurang lebih 74,5% dalam sehari ini memberikan optimisme bahwa gejolak pasar akibat aksi pelepasan besar-besaran pasca pengumuman MSCI telah mencapai puncaknya.

Meskipun arus keluar dana asing masih terjadi, intensitasnya telah jauh berkurang dibandingkan dengan hari sebelumnya. Aksi jual masih terfokus pada saham-saham unggulan di sektor perbankan yang menjadi magnet utama bagi aksi jual investor asing.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tercatat sebagai saham dengan nilai net sell terbesar dari investor asing, mencapai Rp224,2 miliar. Posisi selanjutnya ditempati oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang mencatat aksi jual sebesar Rp93,2 miliar.

Selain saham perbankan, beberapa emiten dari sektor lain juga menjadi sasaran pelepasan dana asing. Tekanan jual signifikan juga terlihat pada PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar Rp77,3 miliar dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) senilai Rp40 miliar.

Saham-saham lain yang juga mengalami net sell besar antara lain PT Jasa Marga Tbk (JSMR) sebesar Rp39,9 miliar, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sebesar Rp32 miliar, serta PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang mencatatkan net sell Rp31,5 miliar.

Di sisi lain pergerakan pasar secara keseluruhan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan hari itu dengan penguatan yang signifikan. IHSG dibuka di zona merah namun kemudian berhasil melaju kencang hingga naik 1,96% ke level 5.999,04 pada penutupan sesi kedua.

Penguatan IHSG ini didukung oleh mayoritas saham yang berada di zona hijau, yakni mencapai 537 emiten, sementara hanya 135 emiten yang mengalami penurunan harga dan 141 emiten yang stagnan. Dilansir dari CNBC Indonesia, meskipun IHSG menguat, nilai dan volume transaksi tercatat relatif sepi.