TREN.BISNISMARKET.COM - Raksasa teknologi asal China, Tencent, dilaporkan sedang menjajaki kemungkinan akuisisi terhadap SuperPlay, sebuah perusahaan pengembang game mobile yang berbasis di Israel. Perusahaan ini baru saja diakuisisi oleh Playtika asal Israel kurang dari dua tahun lalu.
Nilai transaksi yang sedang dibicarakan dalam negosiasi ini diperkirakan mencapai angka fantastis, yaitu antara US$1 miliar hingga US$1,5 miliar. Angka tersebut setara dengan kisaran Rp17,9 triliun hingga Rp26 triliun, menunjukkan potensi nilai strategis SuperPlay di pasar game global.
SuperPlay kini menjadi aset paling berharga dalam portofolio Playtika, berkat pertumbuhan bisnis yang melampaui ekspektasi awal. Perusahaan berhasil membukukan pendapatan sebesar US$573 juta pada tahun 2025, sebuah pencapaian signifikan yang 67% lebih tinggi dari target yang ditetapkan.
Changan Deepal S05 Hadir di Indonesia, Tawarkan Pilihan EV dan REEV dengan Harga Kompetitif
Salah satu pilar kesuksesan SuperPlay adalah game Solitaire bermerek Disney yang dikembangkan oleh mereka. Game ini diprediksi mampu menghasilkan pendapatan sekitar US$300 juta setiap tahunnya, menjadikannya "mesin uang" yang sangat diandalkan.
Namun, kesuksesan SuperPlay justru menimbulkan beban finansial bagi perusahaan induknya, Playtika. Hal ini disebabkan oleh kewajiban pembayaran earnout kepada para pendiri SuperPlay yang terus membengkak.
Estimasi kewajiban pembayaran earnout tersebut kini telah mencapai US$829 juta dan masih berpotensi terus meningkat seiring dengan performa bisnis SuperPlay. Beban finansial ini menjadi tantangan tersendiri bagi Playtika.
Jika kesepakatan akuisisi dengan Tencent terealisasi, raksasa teknologi China itu diperkirakan akan mengambil alih kewajiban pembayaran earnout yang membebani Playtika. Langkah ini dinilai dapat membebaskan Playtika dari beban finansial ratusan juta dolar.
Potensi penjualan SuperPlay ini menandai sebuah pembalikan strategi yang cukup drastis bagi Playtika. Akuisisi SuperPlay sebelumnya merupakan upaya perusahaan untuk mengurangi ketergantungan pada bisnis kasino sosial dan melebarkan sayap ke segmen casual gaming.
Playtika sendiri saat ini sedang menghadapi tekanan keuangan yang cukup berat. Perusahaan memiliki utang senilai sekitar US$2,3 miliar yang dijadwalkan jatuh tempo pada tahun 2028 dan 2029. Kondisi suku bunga yang lebih tinggi juga diperkirakan akan meningkatkan biaya refinancing utang tersebut.