TREN.BISNISMARKET.COM - Amerika Serikat dilanda gelombang protes yang signifikan terkait maraknya pembangunan pusat data atau data center. Aksi ini dipicu oleh kekhawatiran warga terhadap dampak ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat.

Demonstrasi berskala nasional ini berlangsung di 142 lokasi yang tersebar di 42 negara bagian pada Sabtu, 18 Juli. Ini merupakan upaya kolektif pertama masyarakat untuk menyalurkan keresahan yang telah muncul setahun terakhir dan mulai memicu ketegangan politik di tingkat lokal.

Kelompok bernama HumansFirst menjadi koordinator utama aksi protes ini. Kelompok tersebut didirikan bersama oleh Amy Kremer, yang sebelumnya merupakan tokoh kunci dalam gerakan Tea Party modern.

Amy Kremer menyamakan situasi penolakan data center saat ini dengan gerakan populis sayap kanan yang muncul pada tahun 2009. Gerakan tersebut kala itu memprotes kebijakan yang dianggap membebani masyarakat melalui pajak berlebihan dan campur tangan pemerintah.

Para demonstran menyuarakan keberatan mereka terhadap pembangunan data center, yang oleh HumansFirst digambarkan sebagai proses yang tidak akuntabel dan merupakan pelanggaran terhadap kebebasan mereka.

Di Fredericksburg, Virginia, salah satu peserta aksi membawa poster yang secara tegas bertuliskan, "Kami hidup dari air, bukan data."

Sementara itu, di Atlanta, sejumlah kecil demonstran mengangkat poster yang menyatakan, "Georgia tidak pernah memilih data center AI hyperscale."

Chris Barron, Presiden Right Turn Strategies yang menangani hubungan media untuk HumansFirst, mengonfirmasi bahwa jumlah pasti demonstran, baik secara nasional maupun di masing-masing kota, masih dalam penghitungan.

Beberapa penyelenggara aksi melaporkan bahwa jumlah peserta di beberapa wilayah pedesaan dan kota besar seperti Atlanta dilaporkan lebih sedikit dari perkiraan awal. Kendati demikian, HumansFirst tetap mengapresiasi partisipasi para aktivis komunitas.