TREN.BISNISMARKET.COM - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang impresif sebesar 61,9% pada paruh pertama tahun 2026. Angka ini menunjukkan kinerja finansial perusahaan yang solid di tengah dinamika industri kepelabuhanan nasional.

Peningkatan laba bersih yang signifikan ini didorong oleh kombinasi antara pertumbuhan pendapatan dari layanan kepelabuhanan dan efisiensi yang berhasil diterapkan dalam operasional perusahaan. Kedua faktor ini menjadi kunci utama dalam mengerek profitabilitas Pelindo.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak menjadi Rp2,42 triliun. Angka ini tumbuh substantial dari Rp1,49 triliun yang tercatat pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba ini sejalan dengan peningkatan pendapatan usaha Pelindo yang mencapai 11,3% secara tahunan, meraup Rp18,51 triliun. Sementara itu, laba usaha juga menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 32,4%, mencapai Rp4,51 triliun dari sebelumnya Rp3,41 triliun pada semester I-2025.

Kontributor terbesar pendapatan Pelindo masih berasal dari lini bisnis inti kepelabuhanan. Pendapatan dari terminal peti kemas tercatat naik menjadi Rp7,74 triliun, melampaui perolehan Rp6,69 triliun setahun sebelumnya.

Selain itu, pendapatan dari pelayanan kapal juga menunjukkan tren positif, meningkat menjadi Rp3,54 triliun. Posisi selanjutnya diisi oleh pendapatan pelayanan barang sebesar Rp2,52 triliun dan pengusahaan tanah, bangunan, listrik, serta air yang mencapai Rp2,76 triliun.

Bisnis logistik Pelindo turut memberikan kontribusi positif dengan pertumbuhan pendapatan sekitar 25%, mencapai Rp513,2 miliar. Sementara itu, pendapatan dari pengusahaan alat melonjak drastis sekitar 57%, menyentuh angka Rp380 miliar.

Yang menarik, pertumbuhan pendapatan yang pesat ini tidak diikuti oleh lonjakan beban operasional yang sebanding. Beban operasi hanya mengalami kenaikan sekitar 5,1%, menyentuh angka Rp13,62 triliun.

Beberapa pos beban justru terpantau mengalami penurunan. Beban sumber daya pihak ketiga turun menjadi Rp3,68 triliun dari Rp4,11 triliun, sementara beban penyusutan dan amortisasi menyusut menjadi Rp1,60 triliun dari Rp1,88 triliun.