TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan saham perusahaan teknologi raksasa asal Korea Selatan, SK Hynix, mengalami penurunan drastis lebih dari 15% pada Senin (13/7). Penurunan ini menjadi yang terbesar dalam kurun waktu hampir dua dekade terakhir.
Hal ini terjadi setelah investor memutuskan untuk merealisasikan keuntungan mereka menyusul reli harga saham yang signifikan dan debut perusahaan di bursa Amerika Serikat (AS) Nasdaq pada pekan sebelumnya. Saham SK Hynix yang diperdagangkan di AS melalui American Depositary Receipts (ADR) juga ikut tertekan, ambruk 7,9% menjadi US$154,7.
Aksi jual tidak hanya terbatas pada SK Hynix. Saham perusahaan teknologi raksasa lainnya, Samsung Electronics, juga mengalami pelemahan. Kondisi ini turut menyeret indeks Kospi Korea Selatan anjlok hingga 9%, bahkan memicu penghentian perdagangan sementara (trading halt) selama 20 menit.
Tekanan jual kemudian menjalar ke saham produsen chip di Amerika Serikat. Micron Technology tercatat melemah 6,4%, SanDisk merosot 8,4%, dan Western Digital tergerus 6,8%. Akibatnya, indeks semikonduktor Philadelphia (SOX) terkoreksi sebesar 3,6%.
Meskipun Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung kembali menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat proyek pembangunan pabrik chip bernilai ratusan miliar dolar AS yang telah direncanakan oleh Samsung dan SK Hynix, pasar saham Korea Selatan terus melanjutkan pelemahannya setelah perdagangan dibuka kembali.
Pekan lalu, SK Hynix berhasil menghimpun dana lebih dari US$26 miliar melalui penjualan ADR dengan harga US$149 per lembar. Langkah ini diambil setelah harga saham perusahaan di Korea Selatan melonjak lebih dari tiga kali lipat sepanjang tahun berjalan.
Saat pertama kali diperdagangkan di Nasdaq, ADR SK Hynix dibuka 14% di atas harga penawaran, mencapai level US$170, sebelum akhirnya ditutup di US$168 pada hari pertama perdagangannya.
"Saham chip memori telah naik sangat tinggi sehingga wajar jika ada aksi ambil untung. Namun saya tidak melihat ini sebagai akhir dari tren kenaikannya," ujar Phil Blancato, Presiden sekaligus CEO Ladenburg Thalmann Asset Management.
Phil Blancato menambahkan bahwa permintaan terhadap chip AI masih menunjukkan kekuatan yang signifikan. "Siklus permintaan masih sangat kuat dan saya rasa belum mencapai puncaknya. Permintaan dari berbagai perusahaan diperkirakan akan terus berlanjut hingga akhir 2027 bahkan awal 2028," katanya.