TREN.BISNISMARKET.COM - Upaya mitigasi risiko bencana gempa bumi di Pulau Jawa memerlukan pemahaman yang jauh lebih mendalam mengenai lokasi dan karakteristik sesar-sesar aktif yang ada. Hal ini disampaikan oleh para ahli geologi sebagai langkah krusial untuk meningkatkan akurasi penilaian bahaya di masa mendatang.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Danny Hilman Natawidjaja, mengungkapkan bahwa masih banyak ketidakpastian mengenai sumber-sumber gempa di wilayah Jawa. Ketidakpastian ini perlu diteliti lebih lanjut guna menyempurnakan penilaian risiko bencana secara keseluruhan.
Pemaparan ini disampaikan oleh Danny dalam acara Workshop Advancing Multi-hazard Exposure Information in the Java Trench Region, Indonesia: For Enhanced Risk Assessment and Resilience. Acara tersebut diselenggarakan oleh Geoscience Australia bersama berbagai lembaga pemerintah RI di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, pada hari Senin lalu, sebagaimana dikutip Minggu (14/6/2026).
Dalam presentasinya yang berjudul Tectonic Deformation in the Java Trench Region, Danny menjelaskan bahwa sistem sumber gempa di Pulau Jawa sangat kompleks. Selain adanya zona megathrust di selatan Jawa, terdapat pula berbagai sesar aktif di daratan yang memiliki potensi memicu dampak kerusakan signifikan.
"Pengetahuan kita mengenai sesar aktif di Jawa masih menyimpan banyak ketidakpastian. Ada sejumlah sesar yang sudah diketahui, tetapi karakteristik pentingnya seperti laju pergeseran, segmentasi, hingga magnitudo maksimum masih belum sepenuhnya dipahami," ujarnya.
Salah satu struktur geologi yang menjadi perhatian utama adalah Java Back-Arc Thrust, sebuah sesar naik besar yang membentang dari Jakarta hingga Surabaya. Menurut Danny, keberadaan sesar ini meningkatkan tingkat bahaya gempa di wilayah utara Jawa, yang selama ini sering dianggap lebih aman dibandingkan sisi selatan yang terdampak zona subduksi.
Ia menjelaskan bahwa peta bahaya gempa yang saat ini digunakan merupakan hasil interpretasi dari berbagai data geologi dan kegempaan yang terus berkembang. Oleh karena itu, peta sesar aktif dan peta bahaya gempa tidak boleh dianggap statis, melainkan harus terus diperbarui seiring temuan penelitian baru.
Tim BRIN baru-baru ini berhasil melakukan pemetaan rinci di kawasan sekitar Gunung Ciremai, yang menghasilkan informasi baru mengenai sesar aktif serta adanya perubahan segmentasi pada beberapa struktur patahan yang sudah teridentifikasi sebelumnya. Temuan ini berpotensi mengubah estimasi bahaya gempa pada skala lokal.
"Setiap bukti geologi baru dapat mengubah pemahaman kita mengenai sumber gempa. Dampaknya mungkin tidak terlalu besar pada skala regional, tetapi dapat signifikan bagi penilaian bahaya di tingkat lokal," jelas Danny.